Koneksi Antar Materi – Pembelajaran Sosial dan Emosional

                       

 Penulias: Erna  Maria  Angelia  Bone, S.Pd

Bacaan Lainnya

CGP Angkatan 3 SMP Negeri 6 Kupang

2.2.a.9 Koneksi Antar Materi – Pembelajaran Sosial dan Emosional

Proses pembelajaran anak tidak tergantung pada aspek inteligensi atau kemampuan kognitif saja, tetapi juga dipengaruhi oleh aspek lain seperti aspek perkembangan emosi dan sosial. Aspek emosi dan sosial ini sangat berpengaruh terhadap prilaku anak kepada dirinya, orang lain dan lingkungannya. Pada anak usia dini aspek sosial emosi ini dapat dikembangkan melalui pembelajaran sosial emosional. Dimana pembelajaran sosial emosional adalah proses mengembangkan keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk memperoleh kompetensi sosial dan emosional sebagai modal anak dalam berinteraksi dengan dirinya, orang lain dan lingkungan sekitar.

Pendidikan bukan hanya proses untuk memperoleh ilmu pengetahuan namun bagaimana seorang guru dapat menuntun anak menemukan kodrat jati diri, karakter dan budi pekerti. Untuk dapat menumbuhkan hal ini anak-anak harus di latih dengan berbagai kegiatan, mereka terbiasa melakukan ketrampilan-ketrampilan yang mereka butuhkan agar dapat bertahan dalam maslah sekaligus memiliki kekampuan menemukan solusi untuk memecahkan maslah yang mereka hadapi, dan tentu saja proses ini akan mengajarkan mereka menjadi pribadi-pribadi yang bijaksana dan berbudi pekerti luhur. Pembelajaran Sosial Emosional adalah pembelajaran berbasis keterampilan dalam mendidik yang dibutuhkan anak untuk dapat bertahan dalam masalah dan memiliki kemampuan memecahkan masalah.

Sebagai seorang guru, kita dihadapkan dengan beragam masalah, baik itu masalah dari murid, rekan kerja, orang tua, atasan, atau pun masalah yang timbul dari banyaknya tuntutan pekerjaan yang membuat stress atau tertekan.Keadaan seperti ini tentunya akan mengganggu proses pembelajaran di kelas. Kontrol emosi menjadi tidak stabil. Oleh karena itu, berkesadaran penuh (mindfulness) menjadi sesuatu yang harus dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Dalam berkesadaran penuh, seorang guru dapat mengelola konflik, mengelola stress, mengetahui cara berinteraksi dengan orang lain, mengetahui cara untuk memahami diri senidir, merasakan dan mengenali pikiran, perasaan dan lingkungannya. Dengan memahami emosi diri maka akan membantu kita untuk dapat merespon terhadap kondisi yang sedang dialami secara tepat, merespon secara lebih baik. Hal ini tidak hanya akan berdampak pada wellbeing diri tetapi dapat juga membantu menjadi role model  bagi murid-muridnya.

Kompetensi sosial-emosional adalah  :

Kesadaran Diri – Pengenalan Emosi

Pengelolaan Diri – Mengelola Emosi dan Fokus

Kesadaran Sosial – Keterampilan Berempati

Keterampilan Berhubungan Sosial – Daya Lenting

Pengambilan Keputusan yang bertanggung jawab

Tujuan Pembelajaran Sosial Emosional

Memberikan Pemahaman ,penghayatan dan Kemampuan untuk mengoelola emosi

Menetapkan dan mencapai tujuan positif

Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain

Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif

Membuat keputusan yang bertanggung jawab ( Responsible Decision Making )

Ruang lingkup pelaksanaan pembelajaran sosial dan emosional  adalah :

Rutin   : Waktu khusus di luar kegiatan akademik, misalnya kegiatan ektrakurikuler, perayaan hari-hari besar, pelatihan dan sebagainya. Terintegrasi dalam mata pelajaran : misalnya melakukan refleksi setelah menyelesaikan sebuah topik pembelajaran. Protocol (budaya atau tata tertib) menjadi budaya atau aturan sekolah yang sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi atau kejadian tertentu.

Untuk dapat mengembangkan kompetensi sosial dan emosional murid secara optimal, seorang guru harus menjalankan peran serta  memiliki nilai kemandirian, reflektif dan kolaboratif dan inovatif serta berpihak pada murid. Melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi di mana seorang guru mampu memetakan pembelajaran berdasarkan kebutuhan individu murid yang berbeda-beda berdasarkan kodrat alam dan zamannya. Mengoptimalkan kekuatan dan potensi untuk menerapkan Budaya Positif disekolah  merupakan strategi efektif dalam membentuk nilai-nilai karakter anak. Jika Pembelajaran sosial dan emosional ini menjadi budaya positif di sekolah maka akan lebih mudah diterapkan karena menjadi sebuah budaya yang menjadi komitmen bersama dalam membangun generasi bangsa cerdas dan berkarakter  mewujudkan Profil Pelajar Pancasia.

Implementasi Pembelajaran Sosial dapat dilakukan dengan empat cara yaitu :

Mengajarkan Ketrampilan Sosial Emosional (KSE) secara spesifik dan eksplisit (dengan sebuah kurikulum)

Mengintegrasikan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) ke dalam praktik mengajar guru dan gaya interaksi dengan murid.

Mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah terhadap murid.

Mempengaruhi pola piker murid tentang persepsi diri dan lingkungannya.

Salah satu peran guru penggerak adalah menciptakan well-being (kesejahteraan hidup) ekosistem pendidikan bagi sekolah .Budaya positif yang dapat dilakukan di sekolah untuk menerapkan latihan berkesadaran penuh (mindfulness) sambil mengembangkan kompetensi kesadaran diri/ self awarness adalah dengan mengenali emosi hal ini dapat membantu murid dan guru merespon pada kondidinya sendiri. Dengan melakukan STOP.
STOP stress by STOP
Artinya:
1. STOP / Berhenti untuk mengelola pengendalian diri (self Awareness)
2. Take a deep breath/ tarik nafas dalam-dalam
3. Observe/ mengamati apa yang terjadi pada tubuh, pikiran, dan perasaan
4. Proceed/ lanjutkan

Editor: Fian Jeadun

 

Pos terkait