Tugas _2.1.a.9_ Pembelajaran Berdiferensiasi

Sebagai Strategi Mengembangkan Potensi Siswa

Bacaan Lainnya

Sumber                        :   Pembelajaran Brediferensiasi

Diterbitkan                 :  10  November  2021

Penulis                         :  Erna  Maria  Angelia  Bone, S.Pd                                     

Pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak – anak peserta didik, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

     (Ki Hadjar Dewantara)

 

A. Latar Belakang 

Berdasarkan kutipan filosofi Ki Hadjar Dewantara di atas, kita perlu menyadari bahwa setiap anak adalah pribadi yang unik dengan segala keberagaman yang mereka miliki. Anak dilahirkan dengan membawa potensi diri masing-masing. Dalam pembelajaran guru harus mampu memberikan pelayanan maksimal kepada mereka. Bukan mereka yang harus menyesuaikan strategi pembelajaran guru, tetapi gurulah yang harus mampu memberi pelayanan sesuai bakat, minat dan kemampuan intelektualnya. Guru harus memahami karaktristik siswanya dan bagaimana cara mengembangkan potensinya.

Penyelenggaraan pendidikan umum di Indonesia hingga kini cenderung bersifat klasikal massal. Artinya, program pendidikan dilaksanakan untuk melayani sebanyak-banyaknya jumlah siswa. Model pengajaran seperti itu mengikuti pola one-size-fits-all (Tomlinson, 1995a). Kelemahan dari model pengajaran itu adalah anak yang memiliki kemampuan dan bakat tinggi atau istimewa (anak berbakat) menjadi tidak terperhatikan. Padahal, bakat atau kemampuan anak berbakat itu seharusnya dapat dilayani dan dikembangkan melalui program pendidikan.Selama ini, program layanan pendidikan bagi anak berbakat umumnya diberikan dalam bentuk program pengayaan dan atau percepatan. Program pengayaan merujuk pada pengayaan kurikulum dan pengalaman pendidikan bagi anak berbakat. Modifikasi kurikulum tersebut tentu saja harus didasarkan pada karakteristik peserta didik. Kendati demikian, ada satu kelemahan yang muncul dari program pengayaan itu. Selama jam belajar di sekolah, anak berbakat menghabiskan waktu belajarnya di dalam kelas untuk mengikuti pelajaran yang sudah dirancang secara umum. Karena mereka mampu menguasai materi lebih cepat dari teman-temannya, mereka akan mudah mengalami kejenuhan.

Pembelajaran berdiferensiasi menjadi salah satu solusi dalam menghadapi keberagaman potensi siswa. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang mengakomodasi dari semua perbedaan murid, terbuka untuk semua dan memberikan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap individu. Keberagaman dari setiap individu murid harus selalu diperhatikan, karena setiap peserta didik tumbuh di lingkungan dan budaya yang berbeda sesuai dengan kondisi geografis tempat tinggal mereka.

B. Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang berpihak kepada siswa. Menurut Tomlinson (dalam Bayuni dkk, 2021), pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Guru merancang pembelajaran sesuai dengan kemampuan siswa. Namun demikian bukan berarti guru harus mengajar dan memberi tugas yang berbeda untuk setiap siswa. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang mengakomodasi dari semua perbedaan siswa, dan memberikan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap individu.Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang mengakomodasi dari semua perbedaan murid, terbuka untuk semua dan memberikan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap individu. Keberagaman dari setiap individu murid harus selalu diperhatikan, karena setiap peserta didik tumbuh di lingkungan dan budaya yang berbeda sesuai dengan kondisi geografis tempat tinggal mereka. Pembelajaran dilakukan dengan beragam cara untuk memahami informasi baru bagi semua murid dalam komunitas ruang kelasnya yang beraneka ragam, termasuk cara untuk: mendapatkan konten; mengolah, membangun, atau menalar gagasan; dan mengembangkan produk pembelajaran dan ukuran evaluasi sehingga semua murid di dalam suatu ruang kelas yang memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa belajar dengan efektif. Selain itu juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.

Dalam pembelajaran berdiferensiasi, hal pertama yang dilakukan oleh guru adalah memetakan kebutuhan belajar siswa. Guru dapat memetakannya berdasar pada kebutuhan belajar siswa yaitu dilihat darikesiapan, minat dan profilbelajar siswa itu sendiri. Kesiapan belajar dapat diukur dengan melihat apakah siswa di kelas berada pada level belajar secara abstrak atau konkret. Guru akan lebih mudah menyajikan materi pembelajaran, karena tingkat kesukaran materi dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa.Kebutuhan belajar peserta didik berupa :

1. Readiness (Kesiapan Belajar)

Kesiapan belajar (readiness) merupakan kemampuan peserta didik untuk mempelajari suatu konten atau materi yang baru. Dalam sebuah pembelajaran, ketika seorang guru ingin melanjutkan pembahasan topik atau materi baru, perlu memetakan kesiapan belajar peserta didik. Kesiapan belajar peserta didik juga dapat diukur dengan melihat apakah peserta didik di kelas masih berada pada level belajar secara abstrak atau kongkrit. Dengan adanya pemetaan kesiapan belajar, akan sangat membantu guru dalam melaksanakan pembelajaran. Guru akan lebih mudah menyajikan materi pembelajaran, karena tingkat kesukaran materi dapat disesuaikan dengan tingkat tingkat kemampuan peserta didik.

2. Minat Belajar Siswa

Dalam merancang pembelajaran, seorang guru perlu mempertimbangkan minat bakat peserta didik. Apabila dalam pelaksanaan pembelajaran, guru mengakomodasi minat bakat peserta didik, tentunya akan meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Dengan sendirinya mereka akan tersadarkan bahwa antara sekolah dengan keinginannya ada kecocokan. Pada akhirnya peserta didik akan merasa bahwa belajar adalah suatu kebutuhan, dan mereka terpanggil untuk belajar dengan lebih baik lagi. Guru dapat melakukan pemetaan minat bakat peserta didik misalnya menyanyi, melukis, desain, membaca puisi, performance, menari, dan lainnya. Minat bakat ini berkaitan dengan produk atau karya yang dihasilkan peserta didik, dalam atau setelah proses pembelajaran.

3. Learning Profile (Profil Belajar Siswa)

Profil belajar peserta didik menurut Tomlinson adalah pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dan lain – lain. Dengan adanya pemetaan profil belajar, seorang guru akan berpeluang memberikan kesempatan belajar untuk peserta didiknya secara natural dan efisien. Setiap anak memiliki profil belajar sendiri. Salah profil belajar peserta didik yang perlu diperhatikan dalam merencanakan pembelajaran adalah gaya belajar. Adapun gaya belajar peserta didik ada yang visual (belajar dengan melihat), auditori (belajar dengan mendengar), kinestetik (belajar dengan melakukan), maupun kombinasi dari gaya belajar tersebut. Proses pembelajaran yang didapatkan peserta didik, diharapkan sesuai dengan profil belajarnya, bukan profil belajar gurunya.

C. Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi

1. Diferensiasi Konten :

Pendekatan Berdiferensiasi Konten berkaitan dengan apa yang akan dipahami atau dipelajari oleh peserta didik. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, yang dimaksud pendekatan konten adalah suatu pendekatan yang digunakan seorang guru dalam membantu peserta didik untuk memahami atau mempelajari sebuah topik atau materi pembelajaran sesuai dengan kesiapan belajarnya. Kesiapan belajar dapat berhubungan dengan tingkat kemampuan peserta didik dalam mempelajari suatu materi pembelajaran.Berhubungan dengan apa yang diajarkan pada murid dengan mempertimbangkan pemetaan kebutuhan belajar murid baik itu dalam aspek kesiapan belajar, aspek minat murid dan aspek profil belajar murid atau kombinasi dari ketiganya.

a) Kesiapan belajar murid bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih kepada informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki murid saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan.

b) Minat merupakan salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran. Murid yang berbeda akan menunjukkan minat pada topik yang berbeda. Gagasan untuk membedakan melalui minat adalah untuk “menghubungkan” murid pada pelajaran untuk menjaga minat mereka. Dengan menjaga minat murid tetap tinggi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja murid dalam hal ini salah satu contohnya setiap murid memiliki gaya belajar yang berbeda.

c) Pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien dengan demikian guru perlu memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka.

2. Diferensiasi Proses

Pendekatan proses adalah bagaimana setiap peserta didik di kelas belajar untuk mempelajari suatu konten atau materi pembelajaran. Semua aktivitas pembelajaran baik dari awal, inti, dan penutup pembelajaran harus disesuaikan dengan cara profil belajar peserta didik. Salah satu profil belajar peserta didik yang umumnya kita ketahui dan digunakan dalam pembelajaran berdiferensiasi adalah gaya belajar. Setiap peserta didik memilki gaya belajar yang tidak sama.

Dalam kegiatan ini guru perlu memahami apakah murid akan belajar secara berkelompok atau mandiri. Guru menetapkan jumlah bantuan yang akan diberikan pada murid-murid. Siapa sajakah murid yang membutuhkan bantuan dan siapa sajakah murid yang membutuhkan pertanyaan pemandu yang selanjutnya dapat belajar secara mandiri. Semua hal tersebut harus dipertimbangkan dalam skenario pembelajaran yang akan dirancang. Cara diferensiasi proses di antaranya:

a). Kegiatan berjenjang, di mana semua murid bekerja membangun pemahaman yang sama tetapi dilakukan dengan  dukungan, tantangan dan kompleksitas yang berbeda.

b) Menyediakan pertanyaan pemandu atau tantangan melalui sudut-sudut minat, dengan demikian akan mendorong murid mengeksplorasi berbagai materi yang dipelajari.

c) Membuat agenda individual untuk murid, misalnya guru membuat daftar tugas berisi pekerjaan umum untuk semua kelas serta daftar pekerjaan yang terkait dengan kebutuhan individual murid. Jika murid telah selesai mengerjakan pekerjaan umum maka mereka dapat selesai melihat agenda individual dan pekerjaan yang dibuat khusus untuk mereka

d) Memfasilitasi lama waktu yang murid dapat ambil untuk menyelesaikan tugas. Dalam hal ini untuk memberikan dukungan bagi murid yang mengalami kesulitan atau sebaliknya mendorong murid yang cepat untuk mengejar topik secara lebih mendalam.

e) Mengembangkan kegiatan yang bervariasi yang mengakomodasi gaya belajar visual, auditori dan kinestetik.

f) Menggunakan pengelompokan yang fleksibel yang sesuai dengan kesiapan, kemampuan dan minat murid.

3) Diferensiasi Produk

Produk adalah hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukan pada guru. Produk adalah sesuatu yang ada wujudnya bisa berbentuk karangan, tulisan, hasil tes, pertunjukan, presentasi, pidato, rekaman, diagram, dan sebagainya. Yang paling penting produk ini harus mencerminkan pemahaman murid yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Cara mendiferensiasi produk dapat dilakukan dengan berbagai cara dengan mempertimbangkan kebutuhan belajar murid terlebih dahulu sebelum memberikan penugasan produk. Penugasan produk harus membantu murid secara individual atau kelompok, menentukan kembali atau memperluas apa yang mereka pelajari selama periode waktu tertentu (satu semester atau satu tahun). Produk sangat penting karena mewakili pemahaman dan aplikasi dalam bentuk yang luas, produk juga merupakan elemen kurikulum yang langsung dapat dimiliki oleh murid.

Diferensiasi produk meliputi dua hal yaitu memberikan tantangan atau keragaman dan memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan. Sangat penting bagi guru untuk menentukan ekspetasi pada murid, di antaranya menentukan: 1) kualitas pekerjaan apa yang diinginkan; 2) konten apa yang harus ada pada produk; 3) Bagaimana cara mengerjakannya; 4) Sifat dari produk akhir apa yang diharapkan.

Walaupun murid memberikan informasi tambahan membantu guru memodifikasi prasyarat produk yang harus dihasilkan agar sesuai dengan kesiapan, minat dan kebutuhan belajar individu namun gurulah yang tetap harus mengetahui dan mengkomunikasikan indikator kualitas dari produk tersebut.

D. Lingkungan yang Mendukung Pembelajaran yang Berdiferensiasi 

Apa yang kita lakukan sebagai guru untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi? Pembelajaran berdiferensiasi harus dibangun dengan “learning community” atau komunitas belajar yaitu komunitas yang semua anggotanya adalah pembelajar. Guru akan mengembangkan murid-muridnya untuk mengembangkan sikap-sikap dan praktik-praktik yang selalu mendukung lingkungan belajar. Komunitas belajar yang efektif mendukung pembelajaran berdiferensiasi adalah:

1. Setiap orang dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut dengan baik.

Iklim ini bukan hanya dilihat dari sikap dan tindakan guru yang ramah dan menyabut murid tetapi juga sikap yang ditunjukkan antarmurid. Ruang kelas akan dipenuhi dengan hasil belajar murid atau berbagai hal di mama murid berperan di dalamnya.

2. Setiap orang dalam kelas akan saling menghargai.

Baik guru murid orang tua maupun kepala sekolah akan berbagi kebutuhan, perasaan diterima, dihormati, aman sukses dan sebagainya. Apapun perbedaan yang dimiliki mereka semua tentu memiliki perasaan dan emosi manusia yang sama oleh karena itu dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi guru akan membelajarkan murid muridnya untuk membedakan perasaan yang mereka miliki terhadap apa yang dilakukan oleh seseorang dan nilai dari orang tersebut. Guru membantu murid memecahkan secara konsruktif dan tidak akan pernah membuat perasaan siapapun menjadi kecil.

3. Murid akan merasa aman.

Aman tidak hanya secara fisik tetapi juga secara psikis. Murid-murid yang berada dalam kelas tahu persis mereka boleh bertanya jika membutuhkan bertanya, mengatakan tidak tahu jika tidak tahu. Mereka tahu bahwa dalam belajar mereka dapat mengambil risiko untuk mencoba berbagai ide-ide kreatif.

4. Ada harapan bagi pertumbuhan.

Tujuan pembelajaran berdiferensiasi untuk membantu setiap murid tumbuh semaksimal mungkin sesuai kemampuannya. Dengan demikian guru akan berusaha mengetahui perkembangan setiap muridnya dan perkembangan kelasnya secara keseluruhan. Murid juga akan belajar memaknai pertumbuhan mereka sendiri. Mereka akan berbicara tujuan pembelajaran dan cara pencapaiannya. Semua pertumbuhan yang ditunjukkan murid seberapa kecilnya akan layak dicatat dan diperhatikan oleh guru. Pertumbuhan setiap murid akan berbeda-beda bentuknya. Pertumbuhan tersebut adalah sebuah perayaan dan pertumbuhan tersebut tidak akan lebih daripada apapun.

5. Guru mengajar untuk mencapai kesuksesan.

Guru mencari tahu di mana posisi murid dikaitkan dengan tujuan pembelajaran utama yang ingin dicapai dan kemudian memberikan pengalaman belajar yang akan mendorong murid sedikit lebih jauh dan lebih cepat daripada kemampuan mereka saat ini atau zona nyaman mereka. Guru akan merancang pembelajaran yang sedikit melampaui apa yang murid kuasai saat itu, pada saat itu murid akan keluar dari zona nyaman mereka dan merasakan sedikit tantangan. Saat murid mengalami tantangan tersebut guru akan memastikan bahwa dukungan akan diberikan pada murid tersebut, sehingga tantangan tersebut dapat dilampaui sehingga murid tidak akan menjadi frustasi. Bantuan atau dukungan inilah yang disebut “scaffolding”. Jadi pembelajaran yang dirancang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit sehingga setiap murid dapat merasakan kesuksesan.

6. Ada keadilan dalam bentuk nyata.

Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, adil berarti berusaha memastikan semua murid mendapatkan apa yang dia butuhkan untuk tumbuh dan sukses. Murid dan guru adalah sebuah tim untuk berusaha untuk berusaha memastikan bahwa kelas berjalan dengan baik untuk semua orang di kelas tersebut.

 

7. Guru dan berkolaborasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan bersama.

Setiap orang harus mengambil tanggung jawab baik untuk kesejahteraan diri mereka sendiri maupun kesejahteraan orang lain. Untuk itu guru dan murid bekerja sama untuk kesuksesan bersama. Walaupun guru pemimpin kelas, namun murid juga secara sadar mengambil tanggung jawab untuk kesuksesan kelasnya. Mereka akan berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, memecahkan semua permasalahan dengan cara yang konstruktif dan akan membantu mengembangkan rutinitas yang efektif.

E. Penutup

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mampu memenuhi kebutuhan belajar peserta didik. Untuk melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi tentunya memerlukan perencanaan dengan baik. Salah satu perencanaannya adalah guru harus melakukan pemetaan kebutuhan belajar peserta didik di kelasnya, baik readiness, minat, dan profil belajar. Untuk memetakan kebutuhan belajar peserta didik tersebut, guru dapat bekerja sama dengan konselor sekolah dan wakil kepala kepala sekolah, orang tua peserta didik, dan lainnya. Cara memetakannya tentunya harus dilakukan asesmen terhadap peserta didik. Dalam pelaksanaan pembelajarannya, seorang guru tidak harus mengaplikasikan semua pendekatan pembelajaran berdiferensiasi sekaligus. Guru dapat memilih salah satu ataupun melakukan kombinasi. Kemudian tidak berarti juga setiap pertemuan pembelajaran harus dilakukan pembelajaran yang berdiferensiasi. Guru dapat menyesuaikannya dengan kebutuhan belajar peserta didik di sekolah masing – masing. Oleh karena itu penting mendapatkan data kebutuhan belajar peserta dididk yang akurat. Data kebutuhan belajar peserta didik adalah kunci melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik.

Pembelajaran berdiferensiasi yang dilakukan guru harapannya dapat menjadi salah satu solusi dalam menjwab permasalahan motivasi belajar peserta didik yang rendah. Dengan aksi pembelajaran berdiferesiasi, semoga pembelajaran yang dinikmati oleh peserta didik dapat menjadi meaningfull learning dan berpihak pada mereka. Dengan adanya pendekatan pembelajaran ini, peserta didik dapat merasakan pembelajaran yang merdeka.

Akhirnya kesempatan belajar yang mereka dapatkan adalah kesempatan emas mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk menjadi sebuah kompetensi. Dengan semakin baiknya kompetensi yang dimilikinya, maka keselamatan dan kebahagian yang setinggi – tingginya dapat dicapai dengan baik.

 

 

Pos terkait